top down
Google+ Facebook Twitter Youtube

Perkembangan Moral dan Sikap Pada Anak


Pada  awal masa kanak-kanaknya, biasanya anak-anak akan mengidentifikasi diriya dengan ibu atau ayahnya atau orang lain yang dekat dengannya. Sedangkan masa selanjutnya sesuai dengan perkembangan pergaulan dan pandangan anak-anak mulai mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh, pahlawan-pahlawan, pimpinan masyarakat atau orang-orang yang berprestasi dalam bidang olahraga dan sebagainya. Hal tersebut berpengaruh pada perkembangan moral anak. Berikut ini beberapa proses pembentukan perilaku moral dan sikap anak.

1. Imitasi (Imitation)

Dalam tulisan ini imitaasi berarti perniruan sikap, cara pandang serta tingkah laku orang lain yang dilakukan dengan sengaja oleh anak. 

Pada umumnya anak mulai mengadakan imitasi atau peniruan sejak usia  3 tahun, yaitu meniru perilaku orang lain yang ada disekitarnya. Seringkali anak tidak hanya meniru perilaku misalnya gerak tubuh, rasa senang atau tidak senang, sikap orang tua terhadap agama dll. Tetapi ekspresi orang lain terhadap sesuatu, antara lain menitukan orang marah, menangis bergembira dan sebagainya. 

Pada umumnya anak suka menirukan segala sesuatu yang dilakukan oleh  orang tuanya, jadi bukan yang diucapkan atau dikatakan oleh orang tuanya terhadap orang lain, kakak dan sebagainnya. Misalnya apabila dia melihat ayahnya sedang marah terhadap kakaknya, anak akan menirukan perbuatan ayah membanting pintu, namum bukan kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya. 

Jadi kita harus berhati-hati bersikap di depan anak-anak hehe..

2. Internalisasi

Internalisasi  adalah suatu proses yang merasuk pada diri seseorang (anak) karena pengaruh sosial yang paling mendalam dan paling langgeng dalam kehidupan orang tersebut. Suatu nilai, norma atau sikap semacam itu selalu dianggap benar. Begitu nilai, norma atau sikap tersebut terinternalisasi pada diri anak sukar dirubah dan menetap dalam waktu yang cukup lama. Misalnya  seorang anak menilai bahwa memakai kerudung itu baik dan benar, maka anak akan melakukan terus sekalipun kadang-kadang mendapat cemoohan dari orang atau anak lain.  Sebaliknya penanaman nilai semacam ini  dimulai sejak dini, sehingga sejak kecil telah terbiasa membedakan sesuatu yang baik dengan yang kurang baik. 

Dalam Internalisasi tersebut faktor yang paling penting adalah adanya keyakinan dan kepercayaan pada diri individu atau anak tersebut terhadap pandangan atau nilai tertentu dari orang lain, orang tua, kakak atau kelompok lain dalam pergaulan sehari-hari.

3. Intrivert dan Ekstrovert

Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya, minat, sikap atau keputusan-keputusan yang diambil selalu berdasarkan pada perasaan, pemikiran dan pengalamannya sendiri.
Orang yang berkecenderungan introvert  biasanya bersifat pendiam dan kurang bergaul bahkan seakan-akan tidak memerlukan bantuan orang lain, karena kebutuhannya dapat dipenuhi sendiri.

Ekstrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dirinya, sehingga minat, sikap dan keputusan-keputusan yang diambil lebih banyak ditentukan oleh orang lain atau berbagai peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang yang berkecenderungan ekstrovert  biasanya mudah bergaul, ramah, aktif, banyak berinisiatif serta banyak teman.

4. Kemandirian

Dalam pengertian umum kemandirian adalah kemampuan seseorang untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain baik  dalam bentuk material maupun moral.  Sedangkan pada anak kemandirian sering kali dikaitkan dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan kekuatan sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Misalnya mengikat tali sepatu dll. 

Dasar kemandirian adalah adanya rasa percaya diri seseorang untuk menghadapi sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada anak rasa percaya diri ini selalu berkembang sesuai dengan bertambahnya usia dan pengalaman serta bimbingan dari orang dewasa,  antara lain  guru, orang tua, kakak, orang lain di sekitarnya yang dapat bergaul dengan baik serta memberikan bimbingan secara langsung atau tak langsung. 

5. Ketergantungan

Ketergantungan atau Overdependency tersebut ditandai dengan perilaku anak yang bersifat "kekanank-kanakan", perilakunya tidak sesuai dengan anak lain yang sebaya usianya. Dengan kata lain anak tersebut memiliki ketidak mandirian, yang mencakup fisik dan mental dan perilakunya berlainan dengan anak "normal".

6. Bakat

Bakat atau Aptitude  merupakan potensi dalam diri seseorang yang dengan adanya rangsangan tertentu meungkin orang tersebut dapat mencapai sesiatu tingkat kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus yang sering kali melebihi orang lain. 

Bakat tersebut juga terdapat semenjak masa kanak-kanak. Aktivitas anak sudah dapat mencerminkan bakat tertentu. Menurut ilmu pengetahuan ada dua jenis bakat yang dimiliki dan dapat dikembangkan, yaitu :

a. Bakat yang  bertalian dengan kemahiran atau kemampuan mengenai suatu bidang pekerjaan khusus, sebagai contoh : dagang, menulis/menyusun karangan dsb. bakat semacam ini disebut juga vocation aptitude.

b. Bakat yang diperlukan untuk berhasil dalam tipe pendidikan tertentu atau pendidikan khusus, misalnya bakat melihat ruang  (dimensi) yang diperlukan oleh orang arsitek, bakat semacam ini disebut juga scholastic aptitude.


Demikianlah beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan moral dan sikap anak, mudah-mudahan dapat membantu anda dalam membimbing perkembangan moral dan sikap anak-anak kita.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Perkembangan Moral dan Sikap Pada Anak"

Poskan Komentar

Terima Kasih Atas Komentarnya. Kamu Baik Sekali Deh....!